Selasa, 05 November 2013

KARYA ILMIAH AUDIT AKUNTANSI PEMERINTAH



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
 Sebagai dasar untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksanya, akuntan public harus mengumpulkan bukti-bukti dalam pemeriksaanya. Meskipun catatan kwitansi menyediakan bukti pemeriksaan yang cukup untuk mendukung pendapat anditor, namun catatan tersebut bukan satu-satunya bukti pemeriksaan yang dikumpulkan oleh auditor.
Pengumpulan bukti pemeriksaan dapat dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap aktiva, wawancara, serta melalui berbagai sumber di luar pemeriksaan klien. Standar pekerjaan lapangan ketiga menyatakan:”Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditing”.
Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya. Ketepatan sasaran, objektivitas, ketepatan waktu dan keberadaan bukti audit lain yang menguatkan kesimpulan seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti (Nasution,2004).
Maka dari itu pemeriksaan atau auditing merupakan proses investigasi independen terhadap beberapa aktivitas khusus. Pengujian atas laporan keuangan oleh auditor independen ini bertujuan menyatakan suatu opini yang jujur mengenai posisi keuangan, hasil operasi, dan arus kas yang disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

1.2     Rumusan Masalah
      Dari latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah yang akan saya bahas                        adalah :
 Menyatakan pendapat tentang apakah laporan keuangan telah menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum atau dikenal dengan GAAP adalah merupakan tujuan menyeluruh audit laporan keuangan. Untuk itu, auditor harus memperoleh bahan bukti yang cukup dan kompeten sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat.

1.3        Tujuan Penelitian
Dapat mengetahui apakah laporan keuangan tersebut wajar atau tidak wajar.

1.4        Metode Penelitian
Deskriptif.
   Dengan cara mempelajari buku-buku dan  membedah rencana dan rincian keuangan dengan cara di audit dengan teliti.

1.5        Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1   Latar Belakang Masalah
1.2   Perumusan Masalah
1.3   Tujuan Penelitian
1.4   Metode Penelitian
1.5   Sistematika Penulisan
BAB II KERANGKA TEORI
2.1  Pengertian Auditing
2.2  Jenis-jenis Audit
2.3  Akuntansi Pemerintahan
2.4  Budgeting
2.5  Audit Keuangan Pemerintah
2.6  Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISIS
3.1   Pembahasan
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

BAB II
KERANGKA TEORI

 2.1 Pengertian Auditing
Auditing atau pemeriksaan adalah proses investigasi independen terhadap beberapa aktivitas khusus. Pengujian atas laporan keuangan oleh auditor independen ini bertujuan menyatakan suatu opini yang jujur mengenai posisi keuangan, hasil operasi, dan arus kas yang disesuaikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
.
2.2 Jenis-jenis Audit
Sukrisno Agoes (2004, 10-13) menyebutkan tiga jenis auditing yang umum dilaksanakan. Ketiga jenis tersebut yaitu :
1.      Operasional Audit (Pemeriksaan Operasional/Manajemen)
Operasional atau management audit merupakan pemeriksaan atas semua atau sebagian prosedur dan metode operasional atau organisasi untuk menilai efisiensi, efektivitas dan ekonomisasinya. Audit operasional dapat menjadi alat manajemen yang efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Hasil dari audit operasional berupa rekomendasi-rekomendasi perbaikan bagi manajemen sehingga audit jenis ini lebih merupakan konsultasi manajemen.
2.      Compliance Audit (Audit Ketaatan)
Compliace Audit merupakan pemeriksaan untuk mengetahui apakah prosedur dan aturan yang telah ditetapkan otorisasi berwenang sudah ditaati oleh personel di organisasi tersebut. Audit ini biasanya ditugaskan oleh otorisasi berwenang yang telah menetapkan prosedur / peraturan dalam perusahaan sehingga hasil audit jenis ini tidak untuk dipublikasikan tetapi untuk intern manajemen.

3.      Financial Audit (Audit atas Laporan Keuangan)
Pemeriksaan atas laporan keuangan merupakan evaluasi kewajaran laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen secara keseluruhan dibandingkan dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku umum. Dalam pengertiannya apakah laporan keuangan secara umum merupakan informasi yang dapat ditukar dan dapat diverifikasi lalu telah disajikan sesuai dengan kriteria tertentu. Umumnya kriteria yang dimaksud adalah standar akuntansi yang berlaku umum seperti prinsip akuntansi yang umum. Hasil audit atas laporan keuangan adalah opini auditor.

Sedangkan berdasarkan kelompok atau pelaksana audit, audit dibagi empat jenis, yaitu :
1.      Auditor Ekstern
Auditor ekstern / independen bekerja untuk kantor akuntan publik yang statusnya di luar struktur perusahaan yang mereka audit. Umumnya auditor ekstern menghasilkan laporan atas financial audit.
2.      Auditor Intern
Auditor intern bekerja untuk perusahaan yang mereka audit. Laporan audit manajemen umumnya berguna bagi manajemen perusahaan yang diaudit. Oleh karena itu tugas internal auditor biasanya adalah audit manajemen yang termasuk jenis compliance audit.
3.      Auditor Pajak
Auditor pajak bertugas melakukan pemeriksaan ketaatan wajib pajak yang diaudit berdasarkan undang-undang perpajakan yang berlaku.
4.      Auditor Pemerintah
Tugas auditor pemerintah adalah menilai kewajaran informasi keuangan yang disusun oleh instansi pemerintah. Dan sering juga audit atas ketaatan pada peraturan yang dikeluarkan pemerintah. Audit yang dilaksanakan oleh pemerintah dapat dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

2.3 Akuntansi Pemerintah (APEM)
Lembaga pemerintah dalam menjalankan pemerintahannya memerlukan jasa akuntansi, baik analisis maupun untuk meningkatkan mutu pengawasan, pendidikan, dan pengelolaan keuangan untuk menghasilkan informasi yang akan digunakan. Akuntansi demikian dikenal dengan akuntansi pemerintahan. Jadi dapat dikatakan bahwa Akuntansi Pemerintahan adalah akuntansi yang digunakan dalam suatu organisasi pemerintahan / lembaga yang tidak bertujuan untuk mencari laba, dan merupakan suatu bagian dari disiplin ilmu akuntansi sebagai yang utuh.

2.4  Budgeting
Anggaran (budget) ialah suatu rencana yang disusun  secara sistematis,  meliputi seluruh kegiatan perusahaan, dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.
Dari pengertian di atas nampaknya bahwa suatu Budget mempunyai empat unsur, yaitu:
1.      Rencana
2.      Meliputi seluruh kegiatan perusahaan
3.      Dinyatakan dalam unit moneter
4.      Jangka waktu tertentu yang akan datang
Manfaat Budget terdiri dari tiga pokok, yaitu :
1.        Sebagai pedoman kerja
Berfungsi sebagai pedoman kerja dan memberikan arahan serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan perusahaan diwaktu yang akan datang.
2.      Sebagai alat pengawasan kerja
Budget berfungsi pula sebagai tolok ukur, sebagai alat pembanding untuk mengevaluasi realisasi kegiatan perusahaan nanti. Dengan membandingkan apa yang tertuang di dalam Budget dengan apa yang dicapai oleh realisasi kerja perusahaan, dapat dinilai apakah perusahaan telah sukses bekerja atau kah kurang sukses bekerja.
3.      Sebagai alat pengkoordinasian kerja
Budget berfungsi sebagai alat untuk mengkoordinasikan kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat didalam perusahaan dapat saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik untuk menuju ke sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian kelancaran jalannya perusahaan akan lebih terjamin.

2.5    Audit Keuangan Pemerintah
Pemeriksaan keuangan negara adalah meliputi pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara dan pemeriksaan atas tanggung jawab keuangan negara.
Pemeriksaan keuangan negara ada 3 :
1)      Pemeriksaan keuangan,
2)      Pemeriksaan kinerja,
3)      PDTT
Dengan penjabaran sebagai berikut :

Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan. Pemeriksaan keuangan tersebut bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta aspek efektivitas. Dalam melakukan pemeriksaan kinerja, pemeriksa juga menguji kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan serta pengendalian intern.

Pengelolaan Keuangan Negara adalah keseluruhan kegiatan pejabat pengelola keuangan negara  sesuai dengan kedudukan dan kewenangannya, yang meliputi perencanaan, pelaksanan pengawasan dan pertanggungjawaban.

Tanggung Jawab Keuangan Negara adalah kewajiban Pemerintah untuk melaksanakan pengelolaan keuangan negara secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien,   ekonomis, efektif, dan transparan, dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

2.6 Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
SPKN memuat pernyataan profesional pemeriksa, mutu pelaksanaan pemeriksaan, dan persyaratan laporan pemeriksaan yang professional.
Tujuan Standar Pemeriksaan adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi para pemeriksa dan organisasi pemeriksa dalam melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.


BAB III
PEMBAHASAN DAN ANALISIS

3.1                         Pembahasan 
Mencari selisih antara Rencana Anggaran dengan Realisasi yang tadinya rencana anggaran sebesar 801.085.000 dapat dipangkas menjadi 412.335.000

Kertas Kerja RKA-KL
Rencana Kinerja Satuan Kerja
Tahun Anggaran 2012





REALISASI KEUANGAN DAN FISIK
TAHUN ANGGARAN 2012


3.2 Analisis
Setelah saya telusuri, ternyata terjadi kesalahan pemasukan data oleh Perencana komponen Direktorat, yaitu dana Tugas Pembantuan (dana pusat yang dialokasikan ke provinsi untuk bantuan fisik/bahan bangunan rumah/BBR) senilai Rp 388.750.000,- masuk ke kegiatan Dekonsentrasi ( dana pusat yang dialokasikan ke provinsi untuk bantuan non fisik/kegiatan pelatihan), sehingga dana tersebut tidak dapat dicairkan untuk kegiatan dana Dekonsentrasi. Kegiatan Dekonsentrasi yang disetujui sebesar Rp412.335.000,00 hasil pengurangan dari Rp801.085.000,00 dan Rp 388.750.000,00.
Sehingga dana sebesar Rp 388.750.000,-tidak dapat dicairkan dan harus dikembalikan ke Kas Negara.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Jadi, dana yang disetujui oleh Kementerian Sosial sebesar Rp 412.335.000,-. Dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

Rincian Realisasi Keuangan dan Fisik
Tahun Anggaran 2012

 
Dari laporan rincian realisasi keuangan dan fisik, dana yang terpakai sebesar Rp 409.725.000,-.
Dengan perhitungan seperti berikut:

Selisih Realisasi = Anggaran – Realisasi Keuangan
                            = 412.335.000 – 409.725.000
                            = 2.610.000

Presentase Realisasi = Realisasi Keuangan     * 100%
                                             Anggaran
                                   = 409.725.000   * 100%
                                       412.335.000
                                   = 99.37%

Dengan jurnal:
            Aset Lancar                             412.335.000
                           GAP                                                     2.610.000
                           Dana yang Terpakai                         409.725.000

Dari data diatas, kami menyimpulkan bahwa realisasi keuangan yang terjadi di lapangan dalam program “Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial” dapat dikatakan WTS (Wajar Tanpa Syarat). Dikarenakan hanya terdapat selisih sebesar Rp 2.610.000,-.

4.2  Saran
1.      Agar Kementerian Sosial merencanakan komponen kegiatan supaya lebih selektif dan berhati-hati dalam menyusun anggaran, sehingga dana yang dianggarkan terserat sesuai dengan kebutuhan.
2.      Agar dana tugas pembantuan dialokasikan pada DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) Kementerian Sosial (pusat) sehingga kebutuhan daerah bias terakomodasi anggarannya.

Jumat, 25 Oktober 2013

Penalaran Induktif

Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Pengertian penalaran induktif
Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Penalaran induktif ini dalam melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala.
Maksudnya adalah teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci untuk dapat mendeskripsikan gejala dan melakukan generalisasi. Misalnya pada pengamatan atas kaca jika dipanasi sampai 100 derajat celcius lalu dilebur kemudian dapat dibentuk menjadi vas bunga atau barang lainnya.
Contoh penalaran induktif  : kelinci punya hidung, kucing punya hidung, setiap hewan punya hidung. Penalaran induktif membutuhkan banyak sampel untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang diangkat. Oleh karena itu penalaran induktif memerlukan pengumpulan data dan statistik.

Perbedaan penalaran deduktif dan induktif :
Penalaran deduktif = memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik.
Penalaran induktif = menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum.

Jenis – jenis penalaran induktif yaitu :
  1. Generalisasi yaitu  penalaran induktif dengan cara menarik kesimpulan secara umum berdasarkan sejumlah data. Jumlah data atau peristiwa khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.
Contoh :
•    Regina adalah seorang pramugari, dia berbadan tinggi.
•    Nadia adalah seorang pramugari, dia berbadan tinggi.
Generalisasi : semua pramugari berbadan tinggi.

Macam – macam generalisasi :
A. Generalisasi sempurna yaitu generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan penyelidikan. Contoh : sensus penduduk
B. Generalisasi tidak sempurna yaitu generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Generalisasi ini dapat menghasilkan kebenaran bila melalui pengujian yang benar.

  2. Analogi yaitu penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, kita dapat menarik suatu kesimpulan.
Contoh :
Evan adalah seorang altlet renang kebanggaan Indonesia. Setiap hari ia selalu berlatih keras untuk meningkatkan kemampuan berenangnya. Begitu pula Angel, ia merupakan seorang polisi wanita yang memerlukan fisik yang kuat untuk menjalankan tugasnya sebagai aparat penegak hukum. Keduanya membutuhkan mental dan fisik yang kuat untuk bertanding atau mambantu masyarakat memberantas kejahatan. Oleh karena itu, untuk menjadi atlet dan polisi harus memilki mental dan fisik yang kuat dengan cara selalu berlatih.

  3. Hubungan kausal yaitu penalaran yang diperoleh dari gejala–gejala yang saling berhubungan.
Macam – macam hubungan kausal :
Sebab – Akibat. Sebab – akibat ini berpola A menyebabkan B.
Akibat – Sebab.  Akibat – sebab ini berpola A akibat dari B
Akibat – Akibat. Akibat – akibat merupakan penalaran yang menyiratkan penyebabnya, Peristiwa akibat langsung disimpulkan pada akibat yang lain. 
Contoh:

Saat ini harga bahan kebutuhan pokok seperti beras, daging dan lainnya melonjak tinggi. Kenaikan harga-harga tersebut mencapai dua sampai tiga kali lipatnya dari harga semula menyebabkan beberapa usaha yang memakai bahan pokok makanan gulung tikar dan sebagian yang lain menaikkan harga dagangannya. Oleh karena itu, biaya hidup anak kost dan para perantau terutama di kota-kota besar apalagi di Jakarta bertambah mahal.

Senin, 07 Oktober 2013

Pengertian Resensi dan Contoh Resensi novel

A. Pengertian Resensi

Secara etimologi, resensi berasal dari bahasa latin, dari kata kerja revidere atau recensere yang memilik arti melihat kembali, menimbang atau menilai. 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia, resensi diartikan sebagai pertimbangan atau pembicaraan tentang buku dan sebagainya. Secara garis besar resensi diartikan sebagai kegiatan untuk mengulas atau menilai sebuah hasil karya baik itu berupa buku, novel, maupun film dengan cara memaparkan data-data, sinopsis, dan kritikan terhadap karya tersebut.

B. Tujuan Resensi

Adapun penulisan resensi ditujukan dengan maksud sebagai berikut:

1. Membantu pembaca mengetahui gambaran dan penilaian umum dari sebuah buku atau hasil karya lainnya secara ringkas.
2. Mengetahui kelebihan dan kelemahan buku yang diresensi.
3. Mengetahui latar belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan.
4. Menguji kualitas buku dengan membandingkan terhadap karya dari penulis yang sama atau penulis lainnya.
5. Memberi masukan kepada penulis buku berupa kritik dan saran terhadap cara penulisan, isi, dan substansi buku

C. Unsur-unsur Resensi

Dalam membuat resensi, terdapat unsur-unsur yang harus dipenuhi agar resensi yang dibuat menjadi jelas dan berkualitas. Berikut ini adalah beberapa unsur yang harus ada dalam pembuatan resensi:

1. Judul resensi
Judul resensi harus memiliki keselarasan dengan isi resensi yang dibuat. Judul yang menarik juga akan memberi nilai lebih pada sebuah resensi.

2. Menyusun data buku
Penyusunan data buku dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Judul buku;
b. Pengarang;
c. Penerbit;
d. Tahun terbit beserta cetakannya;
e. Dimensi buku;
f. Harga buku;

3. Isi resensi buku
Isi resensi buku memuat tentang sinopsis, ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya, keunggulan dan kelemahan buku, rumusan kerangka buku dan penggunan bahasa.

4. Penutup resensi buku
Pada bagian penutup biasanya berisi alasan kenapa buku tersebut ditulis dan kepada siapa buku tersebut ditujukan.

D. Tahap Penulisan Resensi

Berikut ini akan dijelaskan tahap-tahap dalam penulisan sebuah resensi buku.

1. Tahap Persiapan
Dalam tahap ini, hal yang perlu dilakukan antara lain: memilih jenis buku yang akan diresensi, buku tersebut adalah buku-buku baru, dan membuat anatomi buku.

2. Tahap Pengerjaan

a. Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Sebelum membuat resensi, bacalah terlebih dahulu buku yang akan diresensi hingga tuntas lalu mencatat kutipan dan kata-kata penting di dalamnya.

b. Membuat isi resensi, diantaranya:
• Membuat informasi umum tentang buku yang diresensi.
• Menentukan judul resensi.
• Membuat ringkasan secara garis besar.
• Memberikan penilaian buku.
• Menonjolkan sisi lain dari buku yang diresensi.
• Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
• Penilaian dari segi kelengkapan karya, EYD dan sistematika resensi.

E. Tips Menulis Resensi

Berikut ini adalah tips dalam menulis resensi:

1. Cari dan tentukan buku baru nonfiksi yang akan dibuat resensi.
2. Catatlah identitas buku yang akan diresensi, seperti jenis buku, judul buku, nama pengarang, nama penerbit, tahun terbit, tahun cetak, jumlah halaman, jenis kertas dan harga buku.
3. Catat dan pahami tujuan dan latar belakang penulisan buku, dengan cara membaca kata pengantar atau pendahuluan buku. Buatlah daftar pokok-pokok isi buku secara keseluruhan.
4. Tentukan kelebihan dan kekurangan isi buku.
5. Tulis ringkasan materi dari buku yang dibuat resensi secara jelas dan sistematis.
6. Pada akhir resensi berilah saran dan kesimpulan, apakah buku yang kita resensi tersebut layak dibaca atau tidak.

Contoh Resensi Novel Edensor
  
1. Identitas Buku
Judul Buku       : EDENSOR
Pengarang        :  Andrea Hirata
Penerbit            :  PT.Bentang Pustaka
Tahun                :  2007
Tebal Novel     :   xii + 290 halaman
Ukuran Buku :  20,5 cm x 14 cm
Harga                 :  Rp. 44.500,-
Edisi                   :  Pertama
Kategori            :  Petualangan (nonfiksi)
ISBN                   :  978-979-1227-02-5

Sinopsis - Contoh Resensi Novel Edensor

Novel ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi ini bercerita tentang perjalan hidup Andrea dan Arai, saudara sekaligus teman seperjalanannya yang telah melalui banyak episode kehidupan, suka maupun duka.

Tawaran beasiswa dari Uni Eropa telah menjadi sebuah jembatan keberuntungan (magical bridge) yang menghantar mereka pada penjelajahan panjang di tanah-tanah mimpi, menjadi sebuah kunci yang telah membuka kotak pandora yang berisi mimpi-mimpi masa kecil mereka. Sebuah kerinduan untuk berbuat sesuatu bagi tanah kelahiran, memberikan kebanggaan bagi orangtua dan menyelesaikan mimpi-mimpi para sehabat yang telah terenggut oleh keterbatasan dan jerat kemelaratan.

Universitas Sorbonne Perancis, telah menghantar mereka pada pertemuan dan persahabatan dengan mahasiwa dari berbagai belahan dunia dengan beragam latar belakang. Kehidupan bangsa eropa yang terkenal intelektual, dinamis dan efisien telah menunjukkan pada berbagai realita betapa rendahnya kualitas serta sistem pendidikan bangsa Indonesia. Hanya semangat dan tekad yang kuat yang mampu menghantar mereka pada sebuah keberanian untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan yang modern. Kesenjangan tingkat pemahaman dan pengetahuan mengharuskan dua sobat karib ini berjuang untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

Keindahan benua eropa dan gemerlapnya dunia malam kota Paris memberikan daya tarik bagi siapapun yang melihatnya. Namun, tradisi dan etika back packer Kanada sangat menarik perhatian Andrea bahkan lebih menarik dibadingkan Katya. Mahasiswi jerman yang telah menolak cinta banyak pemuda dan memilih Andrea menjadi kekasihnya. Meskipun pada akhirnya perbedaan makna tentang mencintai telah membawa mereka kembali pada jalinan pertemanan. Kerinduan Andrea pada A Ling, perempuan masa kecil yang sangat dicintainya telah menguakkan kembali ingatannya tentang Edensor. Sebuah desa khayalan pada sebuah novel pemberian A Ling, karya Herriot yang berjudul Seandainya Mereka Bisa Bicara.

A Ling menandai cerita tentang keindahan Desa Edensor dalam novel itu, kubaca bagian itu berulang-ulang. Desa khayalan itu seakan membuka jalan rahasia dalam kepalaku, jalan menuju penaklukan-penaklukan terbesar dalam hidupku, untuk menemukan A Ling, untuk menemukan diriku sendiri. (Edensor, hal 162)
Hamparan dataran hijau, bunga daffodil dan semerbak aroma rerumputan telah membawa andrea bekelana ke setiap sudut desa. Desa khayalan yang telah membuka jalan rahasia dalam kepala Andrea, jalan menuju penaklukan-penaklukan terbesar untuk menemukan A Ling, untuk menemukan cinta dan diri sejatinya. Andrea dan Arai berencana untuk melakukan perjalanan keliling benua Eropa mengikuti tradisi para pengelanan back packerKanada. Rencana perjalanan panjang ini mendapat respon yang serius dari para sahabat, yang akhirnya dijadikan sebagai ajang pertaruhan untuk mengukur keberanian untuk menahklukkan tantangan. Penjelajahan panjang menjelajahi benua eropa dengan bermodal semangat dan keberanian.

Perjalanan dimulai dari kota Paris Perancis melintasi benua Eropa dan berakhir di Spanyol. Pencarian Andrea akan cinta masa kecil telah membawa mereka melintasi rute perjalanan yang panjang melintasi benua Eropa hingga Tunisia, Zaire dan Casablanca di benua Afrika. Rasa lapar, kelelahan serta ancaman kematian karena kedinginan tidak menyurutkan semangat dan keberanian Andrea untuk mencari keberadaan tentang A Ling yang kini menjadi semakin terang.

Kota demi kota menghadirkan beragam realita yang semakin memperjelas makna pencarian Andrea. Sekuat apapun upaya untuk menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya tersebut masih belum berhasil sesungguhnya kita sedang dihadapkan pada berbagai realita tentang diri kita. Pencarian cinta pada sosok perempuan bernama A Ling telah memberikan pembelajaran tentang makna cinta sejatinya, yaitu diri sendiri. Keberanian untuk bermimpi telah menghantar kita pada satu realita yang mengajarkan kita arti kebahagiaan yang sesungguhnya.

2. Keunggulan Buku

Novel edensor ini sangat inspratif. Mengajarkan kita tentang optimis, semangat dan pantang menyerah. Novel Edensor tidak seperti novel-novel karya Andrea Hirata sebelumnya. Novel ini menyajikan ilustrasi gambar pada ceritannya sehingga lebih menarik. Covernya Menarik dan novel ini tidak hanya memberikan hiburan semata, tetapi juga memberikan nasihat dan pengetahuan akan dunia luar.

3. Kekurangan buku

Novel ini menurut  sudah mendekati sempurna, hanya saja kekurangannya hanya pada kertas yang dipakai masih berupa kertas buram sehingga kurang awet dan tidak nyaman dibaca. Gaya bahasa yang digunakan sedikit sulit untuk dipahami oleh pembaca, ada beberapa kata-kata yang tidak dimengerti maknanya oleh para pembaca sehingga membuat para pembaca sedikit bingung.

4. Nilai Buku

Novel Edensor ini perlu dibaca karena novel ini membawa kita pada perjalanan yang tidak hanya membawa kita pada tempat-tempat yang spektakuler, tidak hanya memberi kita tantangan ganas yang menghadapkan pada cinta putih, tetapi mampu membawa kita pada satu kesadaran kesejatian diri manusia. Toleransi, daya tahan dan integritas bukanlah hal yang dapat ditawar-tawar dalam keadaan apapun. Dibutuhkan semangat, kemauan dan daya juang tinggi untuk menghidupi setiap mimpi hingga terwujud dalam sebuah realita kehidupan. Membaca novel ini akan menambah pengetahuan kita dan memberikan kekuatan kapada kita agar dapat berjuang untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan.

5. Kesimpulannya novel ini layak untuk dibaca karena,

- Memperlihatkan kemauan dan daya juang yang tinggi agar setiap mimpi terwujud dalam sebuah realita kehidupan.
- Memberikan semangat atau motivasi pada pembaca untuk terus berjuang dalam mengarungi kehidupan.
- Menghibur pembaca dengan beragam peristiwa lucu dan petualangan yang mendebarkan.
- Memberikan pesan bahwa apapun bisa terjadi jika kita mau berdoa, berusaha dan terus berusaha.
- Mengingatkan kita untuk tidak takut melakukan suatu hal yang baru.

PENALARAN DEDUKTIF - MENARIK SIMPULAN SECARA LANGSUNG - SILOGISME - ENTIMEN

 • Penalaran Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Faktor-faktor penalaran deduktif:
1. Pembentukan Teori
2. Hipotesis
3. Definisi Operasional
4. Instrumen
5. Operasionalisasi
Contoh:
Semua manusia fana (pasti akan mati). (premis mayor)
Sokrates adalah manusia. (premis minor)
Sokrates pasti (akan) mati. (kesimpulan)

• Menarik simpulan secara langsung
Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis.
Contoh kalimat :
- Semua serangga bernafas melalui trakea. ( premis )
- Semua yang bernafas melalui trakea adalah serangga. ( simpulan )

• Menarik simpulan secara tidak langsung
Penarikan ini ditarik dari dua premis. Premis pertama adalah premis yang bersifat umum, sedangkan yang kedua adalah yang bersifat khusus.
Contoh :
Silogisme Kategorial. Silogisme kategorial adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi, yaitu :
- Premis umum : premis mayor ( My )
- Premis khusus : premis minor ( Mn )
- Premis simpulan : premis kesimpulan ( K )

• Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).

Jenis-jenis Silogisme
Berdasarkan bentuknya, silogisme terdiri dari;

1. Silogisme Kategorial

Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh:
    Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
    Bunga teratai adalah tumbuhan (premis minor).
∴ Bunga teratai membutuhkan air (Konklusi)

2.  Silogisme Hipotetik

Argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik yang menetapkan atau mengingkari terem antecindent atau terem konsecwen premis mayornya . Sebenarnya silogisme hipotetik tidak memiliki premis mayor maupun primis minor karena kita ketahui premis mayor itu mengandung term predikat pada konklusi , sedangkan primis minor itu mengandung term subyek pada konklusi.
Contoh:
    Jika hujan,  pelangi akan muncul (mayor).
    Sekarang pelangi telah muncul (minor). 
∴ Hujan telah turun (konklusi)

3. Silogisme Alternatif

Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
    Nenek Encas berada di Bandung atau Bogor.
    Nenek Encas berada di Bandung.
∴ Jadi, Nenek Encas tidak berada di Bogor.

4. Silogisme Disjungtif

Silogisme disjungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan keputusan disjungtif sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya. Silogisme ini ada dua macam yaitu:

           A.    Silogisme disjungtif dalam arti sempit
Silogisme disjungtif dalam arti sempit berarti mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Contoh:
   Revky jujur atau berbohong.(premis1)
   Ternyata Revky berbohong.(premis2)
∴ Ia tidak jujur (konklusi).

          B.    Silogisme disjungtif dalam arti luas
Silogisme disjungtif dalam arti luas berarti premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.
Contoh:
   Hasnan di rumah atau di sekolah.(premis1)
   Ternyata tidak di rumah.(premis2)
∴ Hasnan di sekolah (konklusi).

• Entimen

Entimen adalah silogisme yang diperpendek. Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.
  Contoh entimen:
Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
Anda telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima hadiahnya.

• Salah Nalar

Salah nalar adalah gagasan, perkiraan, simpulan yang sesat atau keliru. Di salah nalar tidak mengikuti tata cara pemikiran dengan tepat. Telaah atas kesalahan itu membantu menemukan logika yang tidak masuk akal dalam tulisan.

Perhatikan contoh di bawah ini:
1. Pada hari ini saya datang terlambat karena jalannya macet.
2. Saya mohon maaf tidak bisa mengikuti pengajian karena tidak ada waktu.

Kalimat di atas merupakan kata-kata yang sering kita ucapkan dalam kehidupan sehari hari. Jika dilihat selintas memang kalimat di atas tampak efektif karena mudah kita pahami. Akan tetapi, kalimat tersebut sebenarnya tidak efektif karena salah nalar.

Pada kalimat (1) terdapat frasa jalannya macet. Di dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI, 1994 : 611) kata macet berarti terhenti atau tidak lancar. Kata terhenti atau frasa tidak lancar hanya boleh mengikuti kata yang bermakna ’gerak.’ Sedangkan kata jalan tidak mengandung makna ’gerak’. Oleh karena itu, frasa jalanya macet mengalamai salah nalar, karena kata jalan pada konteks kalimat tersebut memang tidak pernah bergerak.

Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada kalimat (2). Allah telah memberikan waktu kepada kita 24 jam dalam satu hari dan satu malam. Jadi, kalau ia tidak bisa mengikuti pengajian karena tidak ada waktu, berarti terjadi salah nalar. Kemungkinan yang tidak ada adalah kesempatan, karena setiap orang memiliki kesempatan yang berbeda-beda.

Dua kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi:

(1)   Pada hari ini saya datang terlambat karena lalu lintas macet.
(2) Saya mohon maaf tidak bisa mengikuti pengajian karena tidak ada kesempatan untuk datang.

• Deduksi yang salah

Simpulan yang salah dari silogisme yang berpremis salah.
Contoh :
Jika bayi itu makan banyak, bayi itu akan menjadi kurus.